Taujih Online (TOL)

Notula TOL Dakwah: Isu Gender dan Optimalisasi Peran Muslimah

Notula TOL Fahima: Isu Gender & Optimalisasi Peran Muslimah.
Pembicara: DR. Saiful Bahri, M.A.
Hari/Tanggal: Rabu, 8 Agustus 2012.
Link Rekaman:
http://rumahfahima.wiziq.com/online-class/924981-tol-isu-gender-optimalisasi-peran-muslimah- ust-saiful-bahri



Sejarah isu gender di Indonesia tergolong baru. Tema persamaan derajat perempuan Indonesia mulai terangkat melalui surat-menyuratnya Kartini dengan istri gubernur HIndia Belanda di Indonesia, Abendanon. Tapi ada hal yang paradoks disini, yaitu bahwa seorang Kartini berada di kondisi keluarga rumah tangga yang harmonis. Sementara Abendanon, menggambarkan bahwa kondisi perempuan di Eropa saat itu mulai terlihat kondisi tidak harmonis. Maka kalau disamakan, emansipasi pada saat itu, ada 2 kultur yang berbeda. Kita lihat dari sisi kasar ini saja sudah terlihat bahwa emansipasi tidak pas diterapkan di Indonesia.

Abendanon inilah yang pertama kali mempublikasikan tentang emansipasi di Indonesia, yang bisa jadi tujuan awal sebenarnya untuk mengentaskan kondisi perempuan, dimana pejuangnya sendiri (Kartini) telah menikah, dan menjadi istri keempat dari suaminya, dan kemudian setelah melahirkan dia meninggal. Jadi tujuan awalnya sangat mulia.

Tapi di era berikutnya, dimana mulai terbentuk gerakan emasipasi kelembagaan, baik di Aisyiyah Muhammadiyah, Fatayat NU, kemudian ketika sayap perempuan PKI melihat bahwa kedua gerakan tadi sangat potensial, maka mereka pun membentuk gerakan perempuan untuk mensuplai ide2 komunis & sosialis mereka (Gerwani PKI). Itulah sejarah isu gender di Indonesia.

Kalo kita lihat, sebelum Islam datang, perlakuan diskriminasi terhadap perempuan pun sudah ada. Jadi sebenarnya isu pembebasan perempuan tidak ada hubungannya dengan Islam/ teks Alquran / hadis. Di masa sekarang ini, dimana gender sudah diwacanakan, bahkan dalam UNDP salah satu tolak ukur kemajuan negara adalah bisa diminimalisirnya perlakuan diskriminatif gender.

Sebagai mukaddimah pertama supaya kita bisa diskusi, kondisi perempuan di negara kita sekarang bisa dibilang tidak ideal. Cuma yang menjadi permasalahan, ketidak-idealan tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya dengan teks Alquran maupun hadis.
Contoh: KDRT. Yang diasaskan mereka dari QS. Annisa ayat 34 adalah: ketidaktaatan perempuan -> kita nasehati -> pisah ranjang -> pukul.

Ini kita baru membicarakan ayatnya, belum membahas konten penafsirannya yang benar bagaimana. Jadi pertama, orang yang melakukan KDRT itu bahkan tidak tahu tentang ayat ini. Yang kedua, bisa dilihat orang tsb dari sisi perlakuan lainnya pun tidak benar. Kasuistik kecil seperti ini tidak bisa dihubungkan dengan teks Alquran.

Lalu bagaimana para pejuang gender memunculkan isu2 mereka?
Mereka menggunakan beberapa pendekatan (mohon maaf, lebih lengkapnya bisa dibaca di makalah yang saya sediakan di
http://saifulelsaba.wordpress.com/2012/05/02/gender-vs-family- mainstreaming/ ).
Pendekatan sosiologis historis --> mereka mengatakan Islam turun di Arab, maka perlu dinasionalisasi ketika sampai di Indonesia. Bahwa pengertian aurat di Arab beda dengan pengertian aurat di Indonesia.
Pendekatan anthropologis --> kebiasaan masyarakat tempat turunnya Islam itu berbeda dengan kebiasaan masyarakat tempat diaplikasikannya nilai2 Islam. Jika pemahamannya begini, nanti Islam bisa terkotak-kotak, ada Islam Eropa, Islam Asia, sehingga Islam tidak bisa dijadikan universal satu kesatuan.
Pendekatan normatif-psikologis --> bahwa agama yang baik tidak dilihat dari apa agamanya, tapi dilihat dari efeknya seperti apa. Jadi tidak peduli agamanya apa, tapi dilihat perilaku sehari2nya.
Pendekatan tekstual --> bahwa teks Alquran yang sampai pada kita tidak orisinil lagi. Penyampaian pesan dari Allah sebagai Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW dianggap ada jarak. Allah itu kalam azzali, sedangkan nabi Muhammad SAW manusia, maka tidak bisa dipahami, jadi perlu perantaraan malaikat (Jibril). Otomatis pesan dari Allah yang diterima malaikat Jibril itu berubah. Dan dari malaikat Jibril sampai ke Nabi Muhammad SAW juga berubah. Dari Nabi Muhammad SAW kepada sahabat juga mengalami perubahan. Dan ini terjadi dalam interval waktu yang sangat panjang. Itulah analog yang digunakan oleh mereka untuk membantah sakralisasi

Alquran. Mereka menganggap alquran kita ini bukan kalam Allah melainkan produk peradaban manusia. Buktinya adalah banyaknya tafsir yang bermacam-macam.

Tema yang diangkat dalam isu gender:

  • Asal kejadian manusia. Pejuang gender tidak terima kalau perempuan dicipta dari tulang rusuk laki2. Mereka berkata bahwa dalam Alquran tidak ada pernyataan bahwa perempuan diciptakan dari lelaki. ==> Penjelasannya: memang secara tekstual tidak disebutkan. Tapi secara implisit, ada istilah "nufsun wahidah" atau "nafs yang satu", dan ini bisa dikatakan bahwa Nabi Adam diciptakan pertama, kemudian baru menyusul istrinya, Hawa. Dan sebenarnya kenyataan siapa yang lebih dulu diciptakan, tidak ada hubungannya dengan siapa yang lebih baik. Contohnya, Nabi Muhammad SAW diciptakan sebagai nabi paling akhir, tapi beliau SAW menjadi nabi yang paling baik.

  • Tema2 perkawinan, contohnya perwalian. Perwalian dianggap seperti jual beli. Karena dianggap "menyerahkan" seseorang dalam hal ini perempuan kepada laki2. Dan laki2 dalam hal ini membayar sejumlah mahar. Maka perwalian diibaratkan sebgai transaksi jual beli. Ini yang dikiritisi mereka, dan salah satu tokoh yang paling getol memperjuangkan yaitu Musda Mulia, selalu berusaha meloloskan RUU gender (kemarin sudah ditolak & mungkin saja akan terus ada upaya untuk memasukkan kembali RUU gender ini). Menurut dia, antara suami & istri nantinya akan ada saling tukar mahar yang jenisnya disepakati keduanya, sebagai simbol kesetaraan ==> Penjelasannya: sebenarnya, bahwa ketika laki2 itu menikahi perempuan, otomatis sudah bertanggung jawab atas dirinya. Dan bahwa perempuan tidak membayar mahar bukan berarti perempuan menempati posisi kedua dalam sebuah rumah tangga. Mungkin ini ada kaitannya dengan tema "Laki2 pemimpin rumah tangga".

  • Tema warisan: bahwa laki2 mendapatkan warisan dua kali lipat perempuan. ==> Penjelasannya: padahal kondisi seperti yang disebutkan diatas hanya terjadi dalam 4 ketentuan saja. Sementara diluar itu, ada kasus lain dimana perempuan mendapatkan warisan sama dengan laki2 maupun lebih dari itu. Bahkan ada kondisi tertentu, perempuan

bisa menghalangi laki2 dalam memperoleh harta warisan. Nah hal yang seperti ini tidak dibahas oleh mereka.

Tema ketika terjadi konflik di rumah tangga (menurut ustad Saiful bahri, ini adalah pembahasan yang paling berat, & memang dijadikan target oleh pejuang gender). Baik konflik itu nanti berakhir dengan perceraian, atau berakhir dengan perselingkuhan. Dan dalam agama kita, solusi yang bisa diaplikasikan adalah dengan ta'adud / poligami. Secara spesifik kaum muslimah bisa melihat perbedaan yang terjadi dalam QS Annisa 34 (ketika muncul permasalahan rumah tangga yang berasal dari perempuan) & QS Annisa 128 (Ketika muncul permasalahan keluarga yang berasal dari pihak laki2). Berikut penjelasannya:

Terjemah QS Annisa 34:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Pembahasan: Keluarga di dalam Islam adalah segala2nya. Daalm konsep Islam, keluarga justru melindungi perempuan. Ketika yang cari nafkah laki2, bukan berati perempuan tidak boleh cari nafkah. Perempuan boleh, tapi hartanya untuk dirinya sendiri. Dia tidak ada kewajiban untuk memberi nafkah kepada anaknya. Kemudian kalo dia ada apa2 dia bebas menggunakannya, bahkan dia bisa minta tambahan nafkah kepada suami. Ini salah satu kelebihan yang diberikan Allah kepada perempuan. Nah, karena kewajiban laki2 lebih dari perempuan, maka Allah memberi porsi lebih besar. Laki2 berhak menjadi pemimpin. Allah juga memberi kepada laki2 kelebihan fisik dan lainnya yang memungkinkan untuk mengatur jalannya pengambilan keputusan dalam rumah tangga. Yang tentunya keputusan ini tidak diambil dari salah satu pihak, melainkan dari dua belah pihak.

Annisa 34 ini membahas ketika terjadi permasalahan yang bersumber dari perempuan. Sebelum membahas ayat tsb, apa pengertian perempuan sholihah? Perempuan sholihah adalah perempuan yang taat kepada Allah, perempuan yang sanggup menjaga dirinya/ keluarganya/ kehormatannya ketika sang suami ada maupun tidak ada, karena yang ditakuti bukanlah suaminya, tetapi Allah.

Ketika terjadi pembangkangan istri, (mohon maaf) di sebagian besar kaum muslimin diartikan pembangkangan ini adalah pembangkangan dalam hal tidak melayani kebutuhan biologis. Padahal hal ini bisa diselesaikan dengan komunikasi (jika dasar penolakannya karena salah satu pihak sedang tidak mampu melayani). Adapun jika penolakan dilakukan tanpa alasan, maka baru lah bisa dikategorikan pembangkangan). Contoh lain pembangkangan istri misalnya menelantarkan anak, menelantarkan hak2 suami.

Nah apa yang bisa dilakukan pertama kali oleh suami adalah menasehati. Tahap berikutnya kemudian pisah ranjang, yang dalam bahasa non verbal bisa diartikan NYUEKIN ISTRINYA, inilah terjemahan dari petikan ayat "wahjuruhunna fil madhooji (pisahkan mereka dari tempat tidur)'". Kenapa tempat tidur? Karena itu hal yang paling privat, tempat paling intim antara suami-istri baik secara fisik maupun psikis.

Kemudian tahap berikutnya: memukul. Memukul ini adalah solusi TERAKHIR yang kata Nabi SAW "kalian boleh memukul, tapi yang terbaik diantara kalian adalah tidak melakukan hal itu". Ulama besar Imam Malik menyarankan, kalopun terpaksa memukul, maka pukullah yang bisa melancarkan kebuntuan komunikasi. Beliau berkata, "Boleh mukul, tapi pakai tissue", sehingga nanti akan ada jalan untuk berkomunikasi. Jadi inti dari permasalahn ini sebenarnya adalah KOMUNIKASI.

Kemudian jika tidak bisa diselesaikan sendiri, maka pada ayat berikutnya Allah berfirman (Annisa 35): Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakim dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Jadi Allah memerintahkan untuk mendatangkan mediator dari pihak lelaki & pihak perempuan. Kemudian ada kalimat "Jika mereka bermaksud mengadakan perbaikan, maka Allah akan beri taufik" . Perhatikan, masyaAllah, ini merupakan bahasa yang sangat halus. Disini Allah tidak membahas solusi sebaliknya, tidak disebutkan "jika mereka menginginkan perpisahan". Jadi Allah Maha Tahu sangat detil tentang apa sebenarnya yang menyulut pertikaian mereka.

Ketika dimulai kebanyakan pertikaian dari pihak perempuan (dan ini yang paling banyak), atau kalau boleh dibahasakan kasus keluarga yang konfliknya bukan karena pihak ketiga, biasanya perempuan pada saat mengalami masalah dengan pasangannya, baik pasangan yang harmonis maupun non- harmonis, mereka umumnya mengambil jalan pintas PUTUS. Dan setelah putus itu tidak penting bagi perempuan apakah nantinya menikah lagi atau tidak.

Hal ini beda dengan laki2. Secara umum, ketika laki2 memikirkan putus, maka dia juga berpikir "sebentar dulu, saya ada gantinya atau tidak".
Ini dibahas oleh Allah dalam Annisa 128, terjemahannya: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Kata takut dalam ayat diatas disebutkan sbg "khoofat" artinya “sedang terjadi takut, senantiasa takut, takut yg terjadi berulang2”. Ini bisa juga diartikan bahwa pada suami perempuan ini sedang terjadi nusyuz (pembangkangan), atau ada merasa tinggi hati, atau diperjelas lagi dengan kata (i'roodh) yang artinya sudah tidak ada lagi rasa cinta, tidak memerlukan lagi istrinya (benar-benar nusyuz/membangkang).

Berarti ketika laki2 berpaling, ada pihak ketiga. Tapi maaf saya tidak mengatakan bahwa ini berarti terjadi perselingkuhan, bukan.. Tapi nanti kita pelajari di luar konteks ini. Ketika seorang suami merasa bahwa dia sudah tidak punya rasa cinta lagi kepada istrinya, dan dia justru tertarik dengan perempuan lainnya. Maka ketika mereka berdua menginginkan harmonis kembali ==> keharmonisan

disini Allah bahasakan dengan kata "perdamaian". Perhatikan petikan ayat "Maka perdamaian itu lebih baik bagi mereka. Dan seseorang yang berusaha untuk itu dan berbuat kebajikan, dan bertakwa, Allah Maha Tahu".
Jadi untuk solusi disini, Allah telah berikan penengahnya. Ini adalah penengah yang sering tidak dipahami atau belum dipahami orang. Yaitu poligami, tidak perlu diceraikan istri pertamanya. Coba didialogkan. Meskipun itu syaratnya berat.

Poligami yang disebutkan oleh Allah di awal surat Annisa itu sejarahnya berbeda dengan kasus yang sekarang.
Dalam ayat berikutnya, Annisa 129 terjemahannya: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung- katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Disini disebutkan oleh Allah bahwa "kamu tidak akan bisa berbuat adil". Maksudnya pasti ada kecondongan lelaki tersebut lebih mencintai siapa. Tapi yang bisa diusahakan disini adalah standar keadilan, misalnya adil secara fisik, memisahkan giliran, dsb memisahkan yang lain.

Baru kemudian dibahas solusi lain pada ayat 130 : Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana. ==> Disini ditekankan bahwa Allah memberikan kekayaan pada mereka berdua, entah kekayaan berupa materi, jadi perempuan tidak usah takut jika nanti dia bercerai dia mendapat nafkah dari siapa, Allah yang menjamin bahwa Allah lah yang akan memberi kekayaan itu. Ataupun sebaliknya nanti ketika bercerai akan menikah dengan siapa (nanti Allah juga yang akan memberi solusi).

Ini karena di kasus nusyuz kedua ini, ada pihak ketiga yang masuk. Beda dengan kasus nusyuz pertama (QS Annisa 35), dimana mereka tidak menginginkan perceraian.

Saya kembali pada kasus nusyuz pertama, bahwa bagi para pejuang gender, perceraian itu harus diselesaikan dari awal sampai akhir di pengadilan. Jadi hak laki2 untuk memegang kata cerai itu

ditiadakan sama sekali. Sebenarnya kenapa laki2 diberi hak untuk mengatakan cerai, hikmahnya adalah supaya dia tidak main2, karena sekali bilang cerai, maka jatuh talak satu. Tidak boleh setelah itu mereka berhubungan suami istri. Namun di lain pihak, istrinya itu juga harus tetap diberikan hak2 yang lain, seperti tempat tinggal, nafkah. dsb (jikan masih jatuh talak satu).

Dan ini secara khusus akan nyambung ke bab perceraian (dari yang tadinya membahas kasus rumah tangga). Kasus perceraian dalam Alquran dibahas panjang di surat Al Baqarah, seperti bagaimana nanti kalau punya anak, anaknya ikut siapa. Kalau masih menyusui, siapa yang menyusui anaknya. Jika yang menyusui adalah mantan istri yang baru dicerai, maka dia harus diberi nafkah. Kalau mantan istrinya tidak mau menyusui, harus dicarikan orang yang mau menyusui.

Lalu di Alquran sendiri ada surat yang bernama At Thalaq, yang dahsyat ternyata isinya, bahwa disitu thalaq dibahas sebagai sebuah SOLUSI yang meskipun bukan solusi ideal.
Maksud saya disini, saya ingin supaya kita tahu bahwa thalaq itu memang dihindari oleh setiap kita (kita menginginkan bahwa setiap keluarga kita kembali kepada keluarga utuh). Nah, sebenarnya solusi ini adalah pengaruh bawaan dari arus keutamaan gender.

Di indonesia saya sering berdiskusi dengan tema family mainstreaming (pengaruh kesetamaan keluarga). Kenapa? Karena keharmonisan di tengah keluarga (yang kita sering dengar ayatnya) menyebutkan ada trilogi pondasi yang harus dibangun di dalam keluarga.
Pondasi yang paling utama adalah
Sakinah (ketenangan). ==> Ketika seorang lelaki selesai bekerja di luar rumah, ia ingin segera kembali ke rumah, ia merasakan pusat ketenangannya secara jiwa dan fisik ada di rumah. Seorang perempuan juga demikian. Ketika dia berada di luar rumah, dia ingin cepat kembali ke rumah. Seorang anak juga demikian, dia bisa bergaul dengan kawan2nya, tapi tempat istirahat yang paling indah adalah bersama kedua orangtuanya, bersama kakak/adiknya. Ketika ketenangan ini ada, maka akan timbul Mawaddah wa Rahmah. Mawaddah wa Rahmah artinya sama, yaitu kasih sayang, tapi berbeda secara kontentnya. Kalau Mawaddah adalah muatannya, maka Rahmah adalah simbolnya.

Allah SWT mencintai kita itu ada simbolnya, dan simbolnya tidak harus dengan diberi uang banyak, bisa bermacam-macam karena rahmat Allah sangat banyak dan kita tidak bisa memvisualisasikan semua. Tapi kalo manusia, misal saya selaku suami mencintai istri saya, cinta itu dikatakan mawaddah, yang bermula dari ketenangan (sakinah) dan kecondongan saya. Maka kemudian, saya mengapresiasikan dengan berupa simbol, misal saya mencarikan nafkah yang benar2 halal. Itu adalah simbol daripada Rahmah.

Nah ketika dalam RT ada ketiga pondasi ini, itu disebut oleh Allah dengan "fii dzaalikal ayat (itulah

tanda2 kekuasaan)". Tadi di awal ayat Allah SWT mengatakan, diantara tanda2 kekuasaan Nya adalah menjadikan 2 makhluk yang serba berbeda dalam satu atap. Kemudian ada idealisme di tangan yang disusut, keluarga yang sakinah mawaddah warahmah ini tadi tumbuh menjadi ayat (tanda2), kemudian ada ayat2 lain yang apabila dikumpulkan akan menjadi kekuasaan Allah, yaitu merekayasa kebaikan.

Terakhir sebelum saya tutup, kalau melihat makalah saya, di endingnya saya sebutkan data tahun 2009 terjadi perceraian tingkat nasional sebanyak 250.000 kasus. Ini sebanding dengan angka 10 persen pernikahan di tahun yang sama. Jadi di tahun itu ada 25.000 pernikahan. Dan dari 250.000 itu, 70 persennya cerai gugat (artinya istri yang melakukan perceraian). Padahal mereka mengatakan ada kemajuan yang cukup signifikan tentang keadilan gender & pemahaman gender oleh perempuan. Tapi kenapa kok diimbangi dengan angka perceraian yang semakin tinggi?

Berarti semakin jelas, kalau saya boleh mengatakan, bahwa grand design sosialisasi kesetaraan gender itu adalah = sosialisasi dari desakralisasi keluarga.

Saya tutup ini dengan sebuah pernyataan bahwa musuh gender itu ada 2 yaitu keharmonisan keluarga dan fitrah (kesucian) anak2. Bila kedua itu hancur, maka basic yang paling kuat dalam tataran untuk merekayasa kebaikan akan hancur dengan sendirinya. Pendekatan sosial, politik & ekonomi akan terus dilakukan pejuang gender dalam upaya sosialisasi kesetaraan gender, terutama masyarakat muslim.

SesiTanyaJawab

Mela:
Mau bertanya tentang poligami. Katanya poligami salah satu jalan menuju surga, Memang jika suami berpoligami, kita bisa mendapat surga lewat amalan apa ya? Jazakumullah.
Jawab:
Sebenarnya jalan menuju surga itu banyak. Dan poligami bisa menjadi jalan menuju surga atau menuju neraka. Jadi kalau syarat poligami terpenuhi, maka dia masuk surga. Keywordnya adalah, poligami merupakan SOLUSI bukan ANJURAN.
Di ayat awal ketika poligami muncul (Annisa ayat 3), motivasi saat itu adalah
motivasi ekonomi. Dia mengakuisisi harta anak yatim perempuan yang dia asuh, kemudian dengan cara menikah, dia dapat dua sekaligus: dapat orangnya (dengan tanpa memberikan mahar) dan sekaligus dapat hartanya. ==> Petikan Annisa ayat 3: “Silakan kamu nikahi anak yatim atau lainnya, dua, atau tiga, atau maksimal empat, dengan cara yang adil seperti yang lainnya”.

Hal ini berbeda dengan kasus kedua. Pada kasus kedua (Annisa 128), Allah kasih poligami sebagai solusi jika terjadi disharmonisasi & ternyata masih bisa mempertahankan pernikahan, maka lakukanlah poligami. Jadi pada kasus kedua ini motifnya disharmonisasi. Atau karena motif kebutuhan biologis, misal kebutuhan biologis ternyata gak cukup dengan satu istri, mau tambah, bisa berbuat adil, maka silakan dilakukan solusi ini.

Jika istri kedua sebelum dipoligami mengajukan syarat harus menceraikan istri pertama, maka ini dosa besar. Ini ada hadisnya.

Kalau ditanyakan ke saya jalan ke surga itu yang mana, maka saya jawab KEADILAN. Dan keadilan ini tidak harus dengan poligami. Adapun seandainya kasusnya ada pada poligami, apa yang harus dilakukan perempuan? Silakan saja dia berkompromi dengan suaminya. Ingat petikan ayat "perdamaian itu bagus, kalau mereka bertakwa (bisa bertakwa kedua2nya), maka akan diberikan kebaikan".

Nah mungkin yang jadi tema besar khusus pembahasan ini (yang sering ditanyakan muslimah) adalah: Lalu kenapa Allah tidak memberikan perempuan pilihan untuk punya suami lebih dari satu, kalau suaminya ada masalah? Misal istrinya tidak terpenuhi kebutuhan biologisnya, apa dia tidak

boleh menikah dnegan laki2 yang lain? Boleh, tapi harus cerai dulu. Kenapa? Karena ada banyak hal disana. Seandainya dia menikah dengan laki2 lebih dari satu. Selain kasus keturunan, biasanya secara psikis laki2 sulit untuk berebut, bila kedua2nya sedang perlu kebutuhan biologis, maka siapa yang dilayani dahulu? Intinya kecondongan perempuan tidak seperti laki2.

Kalau mau jujur, ketika ada seorang laki2 sudah menikah, sudah tua, kemudian cerai atau istrinya meninggal, biasanya dengan cepat dia bisa mencari pasangan hidupnya. Tidak demikian dengan perempuan. Maka itulah yang dikatakan oleh Allah sebagai solusi.

================
Yeni:
Tentang tema warisan dalam isu gender. Di makalah (
http://saifulelsaba.wordpress.com/ 2012/05/02/gender-vs-family-mainstreaming/) ada catatan kaki yang ke-26 tapi tidak ada tautannya yaitu poin "Bahkan ada beberapa kondisi saat itu perempuan menerima bagian, sementara laki-laki tidak mendapatkannya". Mohon penjelasan atau contoh tentang perempuan yang mendapat bagian waris yang sama atau lebih dari bagian laki2.
Jawab:
Ada banyak contoh perempuan mendapat bagian sama atau lebih dari laki2. Seorang perempuan ketika bersaudara, dia mendapatkan bagian duapertiga, tapi dengan catatan dia tidak mempunyai saudara laki2. Nanti pamannya akan terhalang (atau mendapat bagian sisa).
Misalkan ada seorang mayit, dia meninggalkan 2 anak perempuan. Jadi kedua anak perempuannya tadi mendapat bagian gede2. Sementara pamannya (saudara laki2 si mayit) itu justru terhalang. Nah ini yang saya bilang tema warisan harus dipahami secara universal.

================
Umi royyan:
Sebenarnya bila dikaitkan dengan dosa atau tidaknya alasan poligami karena tertarik dengan kecantikan wanita lain, apakah itu berdosa atu tidak?
Jawab:
Kalau dikatakan dosa tidaknya, secara umum saat saya diskusi tertutup dengan laki2, yang lebih sering (meski tidak terkatakan), laki2 bila bertemu dengan seseorang yang lebih cantik, atau ada

kelebihan lain dibanding istrinya, dia akan berpikir, "alangkah beruntungnya kalau saya bisa menikahi dia", atau "beruntung sekali suaminya". Bolehkah alasan poligami karena itu?

Pertama, tidak adil membandingkan perempuan istri kita dengan perempuan lainnya yang kita jumpai saat keluar rumah, sementara istri kita baru bangun tidur ngurusin anak, tentu dengan penampilan yang tidak prima. Sementara kita jumpa dengan perempuan tadi yang segala persiapannya mungkin sudah selesai. Juga pasti ada sisi lain yang saya tidak tahu. Maka kelebihan yang kita kagumi itu tidak selamanya terlihat. Boleh jadi seandainya alasan menikahnya karena itu, nanti pasca menikah dia tetap akan menemukan kekurangan, dan akan tertarik lagi dengan yang lain. Kalau alasannya seperti ini, maka yang perlu dikoreksi adalah sikapnya.

Jika alasannya bukan seperti itu, karena memang kebutuhannya menikahi lebih dari satu, dia mampu, maka berikutnya kemudian didialogkan dengan istri. Meskipun ada pendapat ulama yang menyatakan bahwa tidak perlu memberitahu istri. Disini memang menyatakan sah atau tidaknya pernikahan tidak ada hubungannya dengan etika (ijin istri). Misalnya seperti saya mau bayar zakat, dan harta saya sudah sampai nisab, kemudian harta tsb saya kurangi, maka kewajiban zakat saya jadi hilang. Jadi saya gak wajib bayar zakat. Tapi secara etika, saya menguranginya itu untuk lari dari kewajiban. Sama halnya dalam kasus ini, untuk etikanya, saya harus beridiskusi dengan istri untuk poligami.

Nah, demikian. Jadi jika pertanyaannya poligami karena tertarik kecantikan, maka silakan didiskusikan. Ini yang perlu ditegaskan.

=====================
Aliya:
Bagaimana tips menghadapi mertua yang meremehkan menantunya (istri) yang tidak bekerja. Mertua ini selalu suuzhon sama menantunya dan keluarga menantunya.
Jawab:
Hal itu bisa didialogkan dengan konsep bahwa kita perlakukan mertua kita, sebagaimana orang tua kita juga. Mertua juga demikian, mempertemukan menantunya sama dengan anaknya.

=================
Elien:
Konsep kesetaraan gender yang paling ideal menurut Islam seperti apa? Batasan2nya seperti apa? Kan kalau konsep umum: perempuan diberi kesempatan yang sama dengan laki2, misal laki2 bekerja, maka wanita juga dibolehkan bekerja.
Jawab:
Pertama kita harus hati2 dalam menggunakan istilah. Yang dipakai oleh para pejuang gender disini adalah istilah
"Kesetaraan". Saya masih ingat ketika dulu RUU anti pornografi, mereka sudah putus asa, tapi disisi mereka ada kemenangan, yaitu menghapus kata ANTI, sehingga jadinya UU Pornografi. Padahal tadinya UU ini dibuat untuk anti pornografi.

Maka sekarang RUU Kesetaraan Gender ini juga demikian, jika seandainya umat Islam secara keseluruhan (secara politik & sosial) tidak bisa menolak RUU ini, maka saya punya kepentingan untuk mewacanakan dimana sebenarnya saya berada. Kata-kata "setara" harus dibuang. Karena setara itu belum tentu adil. Jika porsi jam kerja perempuan setara 8 jam dengan laki2, maka saya sebut itu tidak adil. Tetap karena struktur fisiknya sudah beda, maka secara non fisik juga harus dibedakan.

Sekarang batas2 gender yang lebih parah saya dengar di Eropa, di Inggris saya baca pembedaan toilet laki2 & perempuan sudah mulai dihilangkan. Padahal itu adalah perbedaan paling mendasar yang sebenarnya itu untuk melindungi perempuan. Jadi beginilah jika kesetaraan itu yang diangkat, bukan keadilannya, itu akan merusak perempuan.

Utntuk contoh kasusnya tadi yaitu perempuan bekerja di luar rumah, silakan aja didiskusikan dengan suaminya. Dan saya kira perempuan perlu diapresiasi bakatnya, diberi ruang publik. Saya yakin itu bisa, cuma dia harus tahu hak2 dan kewajiban dia sebagi perempuan.

Kalau batasan2nya, saya kira sama dengan laki2, tidak ada perbedaan. Dia pasti harus menutup aurat, harus menjauhi ikhtilat dengan laki2, harus menjauhi interest dengan selain pasangannya. Sama halnya laki2 juga demikian. Meskipun secara hukum, laki2 ada peluang untuk tertarik

dengan perempuan. Tapi tetap ada etikanya. Sebelum dia menikahi perempuan tsb, dia harus mencitrakan dirinya sebagai orang asing, yang punya etika dalam bergaul dsb.

Jika saya lihat, ada perempuan yang bekerja dirumah, kemudian dia merasa minder, padahal pekerjaan rumah itu mulia sekali. Jadi sebenarnya jika ada orang bekerja di luar rumah, kemudian dia berhasil, itu bagus. Tapi kalo ada orang yang berkata "saya kayaknya lebih puas bekerja di rumah mendidik anak", maka itu yang harus diapresiasi.

Mungkin ada beberapa yang pernah dengar kisah ini karena sering saya angkat, bahwa orang2 besar seperti Imam Suyuthi, itu peran terbesarnya adalah ibunya (meskipun bapaknya adalah orang alim). Kemudian ada Imam Syafii, Imam Bukhari, dan beberapa ulama lainnya, ksemuanya itu peran menonjolnya adalah dari sang ibu.

Kisah Imam Syafii, ketika ditinggal masih kecil oleh bapaknya, sang ibu berjuang mati2an agar anaknya bisa mendapatkan ilmu. Akhirnya dibawa ke Madinah untuk belajar disana. Ketika pelajarannya mahal, disupport terus oleh ibunya sampai Imam Syafii mendapatkan kelas reguler. Dulu Imam Syafii sekolah tahfidz quran di Mekah, tapi dia harus menunggu setelah kelas tahfidz reguler selesai, baru dia bisa belajar. Namun karena kecerdasan beliau, beliau berinisiatif memberi kursus singkat dulu kepada teman2nya, sampai akhirnya kelas tsb bisa dipercepat sampai gurunya heran. Yang harusnya kelas itu 4 jam, bisa jadi 2 jam.

Nah disini kecerdasan Imam Syafii diberikan oleh Allah, kemudian ibunya bisa mendorong berprestasi & oleh Pemda Madinah diberi kesempatan masuk di sekolah hadis terkenal di Madinah, yang guru besarnya adalah Imam Malik. Ini adalah contoh support dari perempuan yang memilih menjadi single parent, tidak menikah lagi, padahal posisinya masih muda (ibu muda). Dia lebih menekankan "anak saya ini harus saya jaga". Selain itu masih banyak contoh lainnya dari para sahabt & tabi'in, yang tidak bisa saya bahas karena nanti terlalu banyak. Sementara ini dulu.

=====================
Yayu:
Bagaimanakah pandangan menurut Islam atau contoh tokoh muslimah yang optimal dalam menjalankan hidupnya sebagai muslimah?

Jawab:
Kalau contoh tidak bisa satu saja ya. Dalam alquran, nabi ada banyak. Ada yang dari kalangan istana, dicontohkan melalui nabi Yusuf, Nabi Sulaiman, Nabi Daud. Contoh seorang Nabi yang punya konflik keluarga yaitu Nabi Nuh AS. Disini peran dakwah sudah maksimal, dia harus menjaga sisi2 lain. Contoh konflik dengan saudara juga dicontohkan oleh nabi Yusuf semasa kecil.

Jadi Islam yang ideal seperti siapa itu tidak bisa terangkum di satu sisi. Misal saya profesinya sebagai guru, maka contohlah Aisyah dengan keilmuannya. Jika saya adalah seorang pendidik yang ingin jadi pendidik terbaik, maka contohlah ibu Imam Syafii, ibu Imam Bukhari, ibunya Asma, ibunya Abdullah bin Zubair. Mereka adalah profil perempuan single parent yang kuat. Contoh perempuan yang konflik dengan sauminya, yang paling ekstrem adalah Asiyah, yang suaminya sangat bejad tapi dia bisa berpegang teguh.

Tapi nantinya kita mengarah pada satu sisi ideal, seperti keluarga Ibrahim, keluarga Imran, yang disebut sebagai prototipe keluarga ideal dalam rumah tangga kita. Contohnya Imran, walopun orang biasa tapi disebut sebagai keluarga percontohan mendampingi 3 Nabi yaitu Nabi Adam dan Nabi Nuh (as a person), Nabi Ibrahim (as a family). Imran ini orang biasa yang diambil Allah sebagai teladan, karena suaminya baik, istrinya baik, anaknya juga baik. Itupun belum ideal, kenapa? Karena suaminya (Imran) keburu meninggal, dan anaknnya cuma satu.

Itu semua contoh2 sisi ideal, ambil yang sesuai dengan realita kehidupan kita. Untuk bisa ideal seperti itu saya rasa kita susah mencapai, jadi hanya kepada mengambil sisi motivasi saja. Untuk prakteknya silakan ambil dari alquran, sudah banyak contoh2 perempuan yang disebutkan dalam alquran, tapi hanya sedikit yang disebutkan namanya, itu rahasia Allah. Tapi untuk kisah perempuan yang disebutkan namanya itu tidak mungkin terulang, contohnya Maryam., tidak akan terulang kisah Maryam dengan prototipe punya anak tanpa suami.

Sementara perempuan lainnya yang tidak disebutkan namanya dalam alquran, contoh Umi Musa yang anaknya dizalimi oleh orang kemudian dilindungi oleh Allah, maka kisah ini masih bisa terulang. Kisah istri Imran, ini juga akan terulang lagi. Kisah disharmonisasi Zaid dengan istrinya juga akan terulang, meski disini nama Zaid disebut, jadi dari sisi laki2 tidak akan terulang.

Jadi jawabannya, silakan dibentangkan alquran, kita ambil contoh yang kisah hidupnya paling menarik & mirip dengan kita. Kira2 seperti itu jawaban normatifnya.

==========================
Ina:
Ada satu kasus terkait hadis Rasulullah SAW. Ada seorang istri yang memang suaminya tidak bekerja. Istri tsb menjadi seorang guru. Suatu hari ada tawaran dari sekolahnya untuk mendampingi siswa2nya ke luar negri. Tawaran itu datang 2 kali. Tapi 2 kali pula ditolak dengan alasan suaminya bilang bahwa dalam hadis Rasul SAW seorang wanita tidak diperbolehkan pergi kecuali dengan muhrimnya, sehingga suaminya tidak mengijinkan. Jika demikian bagaimana perempuan bisa maju ke depannya. Bagaimana sebenarnya batasan2 perempuan boleh keluar negeri, karena ini terkait dengan aktivitas perempuan dalam dakwah, perempuan itu bekerja, atau perempuan itu sekolah menuntut ilmu?
Jawab:
Pertama, ada perbedaan makna antara mahram dengan muhrim.
Muhrim = yang berihram. Mahram = yang tidak boleh dinikahi.
Ada juga yang menyatakan bahwa Muhrim = yang tidak bisa dinikahi sementara, Mahram = yang tidak bisa dinikahi selamanya (abadi). Contoh sementara: saya haram menikahi adik ipar saya. Contoh abadi: saya haram menikahi adik kandung saya.

Hadis tentang mahram menurut sebagian ulama bisa dipahami secara kontekstual, mengapa? Sekarang saja perkembangan ulama sangat moderat. Contohnya haji, 40 orang itu dimahromi satu orang saja sudah cukup. Itu menandakan apa? Bahwa perempuan ketika dia bepergian harus ada yang melindungi. Ini sebenarnya fungsi dari mahram, harus ada sistem yang mana ketika perempuan itu pergi, dia bisa aman. Nah ketika sistem ini bisa dijawab maka diperbolehkan.

Hadis ini sama dengan hadis isbal. Seseorang tidak boleh memanjangkan pakaian sampai mata kaki. Itu secara kasat mata, fisiknya seperti itu. Tetapi secara kontestual, itu konteksnya adalah kesombongan. Kalau seandainya seseorang berpakaian dibawah mata kaki, tapi bukan karena alasan itu, tidak ada kesombongan sama sekali, atau bahkan tidak tahu hadis itu, maka tidak mengapa.

Tapi bagi seorang perempuan, yang wajib adalah ijin suaminya. Bahkan dikisahkan seorang perempuan yang orang tuanya sakit tapi suaminya belum mengijinkan bepergian, bahkan sampai kedua orangtuanya meninggal dia tidak bisa menjenguk karena belum dapat ijin suaminya. Dan itu dibenarkan oleh Rasul SAW. Saya kira kasus demikian untuk saat ini sudah ada teknologi dsb. Atau ketika istrinya bisa memberikan alasan yang tepat, bisa memperkirakan misalnya jika dia ijin dalam hal ini biasanya diperbolehkan (bukan ijin yang belakangan).

Jadi ijin secara verbal memang perlu, tapi ketika suami tidak memungkinkan untuk diganggu, saya kira sekarang bisa didiskusikan.

Untuk contoh kasus pertanyaan tadi, saya kira bisa didiskusikan secara soft oleh keduanya, apakah memang prioritasnya keluarga, atau prioritasnya mengembangkan potensi yang bisa bermanfaat untuk masyarakat. Dan kalau prioritasnya yang kedua, saya kira suami bisa mempertimbangkannya, harus lebih bijak.

Tapi ini pendapat kita sebagai outsider ya, yang belum tentu tahu secara lebih mendalam kondisi rumah tangga ybs. Apakah mereka berdua sebenarnya sudah siap untuk berpisah? Jika suaminya tidak siap berpisah, dia bisa ikut istrinya. Tapi kalau dia ternyata tidak bisa ikut, nah ini ada masalah lain yang harus dibicarakan. Karena memang kasus perpisahan suami istri dalam jangka waktu yang cukup lama, apalagi sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan, disini ada hal lain yang perlu dibicarakan.

=================
Yeni:
Bagaimana cara menerangkan tentang perbedaan aurat laki2 & perempuan, kenapa aurat perempuan yang harus ditutup lebih banyak, hampir seluruh tubuh, sedangkan laki2 tidak. Ada pertanyaan seperti ini, "Bukankah laki2 itu juga menarik secara fisik bagi perempuan?"
Jawab:
Jawaban paling utama yang paling harus dikedepankan, ini seperti menjawab jumlah bilangan shalat, yakni karena sudah ketentuan dari Allah. Lihat ketika Nabi Muhammad SAW diperintah untuk memindahkan kiblat. Perintah ini turunnya ditengah2 shalat Asar. Kalau menurut logika,

bagusnya kan Rasulullah SAW memindah kiblatnya nanti saja setelah shalat berikutnya. Tetapi justru tidak, perpindahan kiblat dilakukan saat ditengah2 shalat Asar. Satu contoh lagi ketika ada hadis menutup aurat turun, perempuan saat itu tidak menunggu besok. Kain apa saja yang ada disitu saat itu langsung digunakan. Sehingga dalam hadis diceritakan perempuan2 Anshar saat itu keluar dengan kepala seperti burung gagak, suatu keadaan yang tidak indah sama sekali dari sisi fashion. Beda dengan sekarang ini kan, jilbab2 lebih berfungsi kepada fashion daripada fungsi utamanya.

Jawaban keduanya, kita bisa menganalisis bahwa secara fisik, perempuan lebih menarik daripada laki2. Ini saya simpulkan dari dialog saya dengan istri, adik, keluarga perempuan saya, bahwa ketertarikan laki2 secara fisik kepada perempuan lebih dominan daripada ketertarikan perempuan kepada laki2 karena fisik.

Makanya pada hadis berikut didahulukan sisi fisik “Perempuan itu dinikahi karena kecantikannya,

hartanya, nasabnya & agamanya”. Kenapa yang ditaruh di posisi paling akhir “agamanya”? Karena itu yang sering dilupakan laki2. Banyak lelaki yang menikahi perempuan karena kecantikannya saja, padahal harusnya ada sisi lain yang lebih diperhatikan. Kecantikan itu sebenarnya adalah kesempurnaan yang ada pada idealisme laki2 yang sedang mencari pasangan hidupnya.

Sementara perempuan tidak seperti itu. Ketika dia melihat ada seorang laki2, kesempurnaan fisik di nomor sekian. Yang dilihat, apakah dia bisa diperlakukan sebagai manusia, dilindungi, ditanggapi emosinya, diimbangi, didengar. Perlu segala yang berawalan di-. Sementara laki2 secara umum perlu yang berawalan me-.

Ada beberapa perbedaan fisik yang mengakibatkan perbedaan perilaku & kecenderungan emosional. Ini saya akan menyinggung masalah sensitif, tapi mudah2an tidak semakin mengembangkan ya. Mengapa dalam alquran selalu disebut ganjaran bagi orang yang sabar, diberi bidadari. Dalam surat Ar Rahman contohnya, banyak disebutkan secara spesifik bahwa baik penghuni surga VIP maupun surga yang biasa, akan mendapat bidadari.

Ini menunjukkan bahwa godaan perempuan itu tidak bisa selesai. Sebaliknya bagi perempuan ketika dia menikah, godaan laki2 hampir bisa dikatakan finish. Yang mungkin terjadi adalah dia digoda.

Tapi kalau dia sengaja menggoda, bisa jadi karena dia diperalat yang lain. Tapi bila murni dari dia sendiri, karena tidak puas dengan suaminya, kemungkinannya kecil.
Dari situlah berangkat mengapa aurat perempuan lebih ditutup. Karena apa sih yang tidak menarik dari perempuan, apalagi ketika dia mendekati kesempurnaan laki2 secara umum (cantik).

Lalu ada pertanyaan, kalau orangnya tidak cantik/tidak sempurna, apakah tidak perlu menutup aurat ustad? Bukan ini temanya. Disini ada iffah yang harus dijaga, ada kepatutan dari seseorang yang nilainya lebih dari yang lainnya. Contoh sederhana, kalo orang awam makan di pinggir jalan itu biasa, tapi bagi seorang kyai jajan di jalan itu aib. Itu disebut kepatutan. Maka ada kaidah "kebaikan bagi orang shaleh biasa itu bisa jadi dianggap tidak patut dikerjakan oleh orang2 yang dia dianggap sebagai public figur misalnya".

Karena itulah aurat lelaki sampai disitu. Mungkin iya ada beberapa wanita yang tertarik pada lelaki karena fisiknya. Tapi ketertarikan itu karena dia mengharapkan efeknya ke dia. Lelaki tertarik pada wanita karena fisiknya, senyumnya, dia bisa hanya menikmati tanpa memperdulikan dia bisa memberi seperti itu apa tidak. Sementara wanita tidak demikian.

Maka ketika ditanya kenapa aurat itu berbeda? karena astrukturnya sudah berbeda, dan perbedaan itu harus ada. Karena Allah memberi perbedaan itu adalah untuk melindungi perempuan.

=============================
Shanti:
Bagaimana posisi ketaatan seorang istri kepada ortu terutama ibu. Yang saya tahu ketaatan suami setelah menikah yang pertama adalah kepada ibu, sedangkan ketaatan istri yang pertami kepada suami. Tentunya setelah kepada Allah & Rasulnya.
Jawab:
Ini tadi sudah dijawab ya. Bahwa ketika wanita sudah berkeluarga, ibaratnya wanita sudah punya kantor cabang. Dia tunduk kepada pimpinan tertinggi di kantor cabang itu (suami) secara utuh. Saya ambil contoh kenapa Allah SWT memerintahkan Ibrahim untuk pergi ke Mekah? Alasannya bukan karena Sarah, ini alasan yang terlalu kejam & tidak memanusiakan Sarah (istri pertama Nabi Ibrahim) yang saat itu tidak punya anak, disaat Hajar punya anak. Masa iya, untuk menjaga kecemburuan Sarah, sampai2 dia harus dipindahkan? Bukan demikian. Alasannya adalah untuk

membuat cabang dakwah baru. Disitu (di Mekah) dia membuat kantor cabang baru, diangkat pemimpin baru, yaitu Ismail AS. Itu analognya ya. Jadi ketika saya sudah punya istri, saya juga membina cabang baru. Etikanya, ketika sang istri ingin birrul walidain ya komunikasikan dengan suami, karena memang diutamakan suaminya dulu. Begitu juga kalau suami ingin birrul walidain. Dan saya kira tidak ada suami yang melarang istrinya birrul walidain. Kalaupun ada, berarti ada gap komunikasi.

Kenapa sakinah di dalam alquran itu disebutkan di urutan nomor satu? Kenapa didahulukan dan dipisahkan, sementara mawaddah warahmah penyebutannya digabungkan? Karena simbol dan kontent itu harus berkaitan erat (mawaddah = kontent, rahmah = simbol). Sebagai contoh seorang muslimah, simbolnya ya harus menutup aurat. Ga bisa yang penting dijilbabin dulu hatinya. Jilbabnya dipake, hatinya ya baik. Jadi antara simbol & kontent hatinya sama.

Sementara sakinah itu ketenangan, kenyamanan. Sakinah bisa dirasakan dalam komunikasi yang terasa nyaman, tidak ada hambatan untuk mentransfer komunikasi kepada pasangannya. Istri ingin A, suami bisa paham. Maka nomor satu yang harus didulukan, apa kata suaminya dulu. Saya rasa komunikasi itu tidak berat.

===========================
Aliya:
Ada yang bilang begini: perempuan tidak bekerja? Bagaimana kalau nanti suaminya meninggal muda? Atau jika suaminya tidak bertanggung jawab? Kan nasib wanita jadi terlunta2. Ini banyak terjadi di masyarakat. Kalau suaminya seperti ustad sih tidak apa2.. Bagaimana cara menjelaskannya ya ustad?
Jawab:
Kenapa harus takut demikian? Selama dia tidak melihat ada gelagat suaminya akan menzhalimi dia, kemudian dia merasa nyaman untuk lebih memilih tidak bekerja (bukan berarti malas karena sebenarnya dia bisa bekerja). Kalaupun ada peluang bekerja (bahasanya: membantu suaminya) itu bagus. Tapi seandanyai tidak bekerja pun dia tidak berdosa, itulah kelebihan Islam.

Artinya Islam melindungi dia. Ketika dia dicerai dia juga harus ada nafkahnya. Seseorang di PHK itu wajib ada uang sakunya. Bahkan ketika dia cerai punya anak, anaknya juga harus dinafkahi oleh suaminya. Itu kaidah idealnya.

Suami yang zhalim, mana mungkin dia mau memberikan nafkah kepada mantan istri & anaknya. Maka ketika ada tanda2 yang mengarah pada kezhaliman suaminya, maka dia bisa cari ancer2 untuk melindungi dirinya & anak2nya saya kira. Dan itu sah2 saja.

Bolehkah saya merahasiakan sesuatu kepada suami saya? Belajarlah dari kisah Asiyah, dia merahasiakan keimanannya kepada Firaun. Tapi pada akhirnya dia juga ketahuan & mati dengan tragis dibunuh oleh suaminya sendiri. Maka sekali lagi lihatlah alquran, kita akan lihat contoh2 yang sesuai dengan keadaan hidup kita.

Dalam islam wanita dilindungi. Dia ditinggal mati suaminya, dapat warisan. Dia dicerai, dapat uang saku, dapat iddah. Selama iddahnya ada, akan ada perlindungan.
Dan firman Allah dalam Annisa 130, "JIka nanti seandainya keduanya memilih berpisah" --> ini sama maksudnya baik berpisah dalam kondisi hidup atau meninggal, kemudian dilanjutkan dengan "Maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing2nya dari limpahan karunia Nya. Dan adalah Allah Maha Luas Karunianya lagi Maha Bijaksana".

Contoh ibunya Imam Syafii yang tidak kenal menyerah, padahal mereka keluarga miskin (walopun keluarga ibunya lebih kaya dari keluarga bapaknya). Begitu suaminya meninggal, dia terus melanjutkan perjuangan.
Contoh lain Nabi Muhammad SAW, ketika Abdullah meninggal, maka beliau SAW diasuh secara estafet, jadi disini Aminah dilindungi oleh keluarganya.

Sehinggga saya kira bila ada ketakutan2 seperti ini, yang harus dikuatkan adalah keimanan kita sebagi perempuan. Ada banyak kisah2 dalam alquran yang kaum muslimah bisa belajar darinya. Misal saya ambil kisah Maryam, karena saya ingin bisa kuat percaya dengan janji Allah, sebagimana halnya juga umi Musa, ketika dijanjikan Allah bahwa anaknya yang tadinya terancam

bahaya, akan dikembalikan kepada dia, dan ternyata benar, di tahun yang sama dia bisa menyusui anaknya, bahkan diberi upah oleh kerajaan.
Atau saya ingin meniru kisah kesabaran Hajar, dll ada banyak kisah, silakan pilih. Itu akan menginspirasi & menggerakkan semangat seorang ibu. Karena seorang ibu adalah sebuah peradaban. Jika ibu lemah maka akan lemahlah masyarakatnya.

Kekuatan wanita justru timbul ketika disabdakan Nabi SAW bahwa "perempuan itu kekurangan akal,

atau kekurangan agamanya". Hadis ini dipotong oleh sesorang. Padahal terusannya itu panjang sekali. Terusan dari hadis tsb, sebenarnya Rasul SAW itu heran, perempuan yang kelihatan lemah secara fisik, lembut, tapi kenapa dia sanggup merontohkan laki2 yang cerdas, yg fisiknya kuat, sehingga bila laki2 tsb berada di hadapannya, laki2 tsb tidak kuat akalnya. Dan itu yang terjadi bukan? Seorang jendral yang garang di lapangan, begitu memasuki rumah tidak berkutik menghadapi istrinya.

Kisah seorang sahabat yang ingin curhat kepada Umar tentang perilaku istrinya, begitu sampai di rumah Amirul Mukminin terheran2 karena terdengar Umar bin Khatab justru dimarahi oleh istrinya. Akhirnya dia memutuskan kembali. Umar yang sempat memergokinya memanggilnya kembali & tanya maksud kedatangannya. Dan berceritalah dia tentang maksudnya untuk curhat, tapi pada akhirnya heran sendiri dengan Umar yang dimarahi istri. Akhirnya Umar berkata, "Bagaimana kita tidak bisa sabar terhadap orang yang melalui sarana dialah, yang haram menjadi halal. Kita bisa beribadah kepada Allah, dan dia bersabar mengandung & menyusui anak kita.

Intinya sekali lagi, cipatakan surga di dalam rumah tangga kita, ciptakan komunikasi yang paling ideal, ciptakan kenyamanan (sakinah) sehingga dari kenyamanan akan memunculkan simbol2 cinta. Essensi cinta yaitu sakinah mawaddah.

Sehingga ketika seorang istri di rumah, dia tidak peduli apakah suaminya jendral besar, kyai besar, atau orang yang tidak punya pekerjaan. Karena pada prakteknya, ketika Khadijah menikah dengan Nabi SAW, keadaan ekonominya tidak pernah diperhatikan oleh Rasul SAW. Seorang konglomerat yang kemudian menikah dengan mantan mitra bisnisnya, tapi dia juga ternyata taat dengan suaminya. Dalam hal lain, Khadijah juga bisa memberikan cinta kepada NAbi SAW sekaligus

mengapresiasikan cintanya. Dia memberikan ketenangan pada saat Nabi SAW disaat gundah menerima wahyu pertama. Dia juga diapresiasi dengan keteduhan ketika dia bertanya nanti akan dikumpulkan dengan siapa di surga? Karena beliau adalah janda dari pernikahan sebelumnya yang terjadi 3 kali (ada yang bilang 2 kali dsb).

===========================
Sita:
Apa argumen yang bisa kita berikan kepada orang2 yang mengatakan aturan Islam itu diskriminatif, misal tentang waris, kenapa bagian laki2 lebih banyak?
Jawab:
Tadi sudah dijawab ya. Aturan tentang warisan itu ada dalam alquran & hadis. Alquran itu hukum universal. Tadi sudah dibilang bahwa perempuan dapat setengah bagian laki2 itu kondisi yang kasuistik saja. Karena orang meninggal itu belum tentu sama kasusnya. Ada yang meninggalkan istri dengan dua anak. Di waktu yang sama bisa jadi dia juga meninggalkan adik, punya paman, bibi, ortu dsb. Ada juga yang meninggal cuman punya istri, ga punya anak, ga punya ortu.
Maka harus dipahami hukum warisan secara komprehensif, bahwa itu adalah sistem ekonomi yang universal. Perempuan dapat setengahnya laki2 itu cuma dalam 4 kondisi aja. Ada banyak kasus yang perempuan dapatnya sama (8 kondisi), dan ada yang perempuan dapat lebih banyak dari lelaki (lebih dari 4 kondisi). Dan bahkan perempuan bisa menjadi hijab/penghalang laki2 untuk mendapat warisan karena laki2nya hanya mendapat sisa (ashobah), sementara yang perempuan mendapat bagian pasti (entah sepertiga kah, atau dua pertiga kah). Sementara orang2 ashobah tadi menunggu kepastian sisa. Jika ternyata tidak ada sisa ya sudah selesai.

=========================
Ina:
Di masyarakat banyak anggapan bahwa seorang istri harus dirumah. Sebenarnya kenapa seorang istri harus di rumah? Lalu bagaimana ia bisa mengembangkan potensinya kalau ia di rumah terus? Jawab:
Kalau jawaban dasarnya adalah surat Al Ahzab 33: "dan hendaklah kamu tetap di rumahmu" ==> ini khusus istri NAbi. Disebutkan disitu “ummahatul mukminin”, ini artinya istri Nabi SAW. Jadi tidak berlaku bagi semua kaum muslimah.

Bahkan istri Nabi SAW sendiri dalam prakteknya, meskipun di rumah, masih bisa berinteraksi dengan para sahabat, sehingga Aisyah bisa meriwayatkan hadis. Bagaimana bisa ada transfer ilmu dari para istri Nabi SAW karena merekalah orang yang paling dekat dengan Nabi SAW? Bagaimana bisa terjadi kecemberuan Nabi dengan istrinya, kalo bukan dari istrinya yang meriwayatkan?

Jadi maksud ayat ini adalah sebagai tindakan preventif melindungi para istri Nabi SAW.
Ummahatul mukminin tidak boleh dinikahi, tidak boleh keluar rumah. Sedangkan umat muslimah secara umum, boleh saja keluar rumah. Aturannya sudah kita bahas diatas, harus punya mahram. Kalau dia memilih untuk di dalam rumah juga tidak mengapa.

Lalu bagaimana masyarakat memilih itu kan adat. Dan adat tidak selalu benar. Justru kadang itulah yang mengebiri. Sudah sekolah tinggi2, ternyata cuma di rumah saja. Komunikasikan dengan suami. Terkadang muslimah tidak bisa keluar rumah itu bukan karena dia tidak mau, tapi karena tidak ada peluang. Dia bisa jadi punya tanggungan anak, harus bersabar dulu sampai anaknya selesai menyusui, dsb. Dan itu bisa dikomunikasikan. Intinya kembali lagi kepada kaidah sakinah. Berikan kenyamanan.

Ini kondisional. Wanita yang memilih di rumah jangan minder. Wanita yang keluar rumah jangan merasa lebih hebat, bisa sukses di luar rumah dan didalam rumah. Masing2 adalah pilihan, dan pilihan selalu ada konsekuensi. Selain konsekuensi juga ada aturan. Di dalam rumah ada aturannya, di luar rumah juga demikian. Dan dari semuanya itu perempuan jangan berpikir individualis, karena dia punya pimpinan, punya teman diskusi, punya orang yang bisa memberi masukan. Meminta pendapat atau second opinion kepada suami, keluarga, atau orang2 yang bisa memberikan pendapat pada perempuan tsb saya kira lebih bijak daripada fokus dengan pandangan bahwa kita harus ada di dalam rumah.

Sama dengan seseorang ketika memahami ayat iddah. Dalam masyarakat kita ada distorsi yang memahami bahwa masa iddah tidak boleh keluar rumah. Padahal silakan saja keluar rumah, yang penting dia jangan menikah, jangan menerima lamaran.

=================== 

Pesan dan kesan penutup:

  • Alquran memberikan porsi lebih tentang pembicaraan terhadap masalah perempuan. Yaitu yang ada dalam surat Annisa. Ini adalah apresiasi untuk mengangkat jauh perempuan dari posisi sebelumnya, padahal sebelumnya posisi sosial perempuan sangat dihinakan di masa itu.

  • Di alquran juga ada banyak kondisi yang mengetengahkan figur perempuan sebagai teladan baik bagi laki2 muslim atau bagi perempuan muslim. Contoh surat At Tahrim ayat 10-12. Jadi dalam alquran, figur perempuan secara teori ada, secara contoh juga ada.

  • Alquran menyuruh kaum muslimah menjaga identitasnya, baik identitas fisik atau identitas normatif. Identitas fisik adalah dengan menutup aurat. Hal ini sudah pasti dilakukan oleh muslimah beriman ketika dia keluar. Jika laki2 keluar rumah, kita belum tahu apakah dia muslim atau bukan. Tapi perempuan, ada konsekuensi yang lebih berat untuk menutup aurat, sehingga identitasnya jelas2 kelihatan, tidak bisa disembunyikan. Dan identitas simbol ini tidak akan terjadi kalau dia tidak memahami identitas normatif, bahwa saya adalah seorang ibu/calon ibu/ calon istri yang bertuhankan Allah, yang sudah paham aturan Allah SWT. Identitas saya adalah punya ciri2. Identitas sesama kaum muslimah adalah dia punya tekad membentuk keluarga harmonis, menemukan sakinah di dalamnya.

  • Keyword yang selalu ingin saya katakan kepada kaum muslimah & lainnya adalah "bahagiakanlah orang lain". Membahagiakan orang lain tidak harus menunggu kita bahagia. Kalau masing2 orang berpikir seperti ini dalam rumah tangga kita, maka akan ada muara pertemuan bahwa saya membangun keluarga itu bukan hanya berasaskan cinta fisik atau non fisik. Tapi ada idealisme bahwa "saya ingin merekayasa kebaikan". Jika keluarga saya baik, akan ada keluarga2 bahagia yang harmonis dan baik. Sehingga meskipun dikomporin keluar rumah dengan alasan dendam, atau ingin menyaingi laki2, atau menyamakan peran perempuan, semuanya tidak akan mempan lagi. Kenapa? Karena saya sudah paham bahwa sebagai seorang perempuan ada peran yang bisa saya ambil sesuai kemampuan, dan bahwa kemampuan setiap orang berbeda2.


logo sjj  


Pengunjung

Hari ini296
Kemarin220
Minggu ini516
Bulan ini8210
All327357

Currently are 11 guests and no members online