Manajemen Keuangan Keluarga

 

By: Vinidya Almierajati

 

Kita sebagai wanita muslimah memiliki peran yang sangat penting dalam berumah tangga, diantaranya adalah sebagai pengelola keuangan keluarga. Bentuk tanggung jawab suami untuk mencari nafkah yang halal sedangkan tanggung jawab istri untuk mengurus, mengelola, merawat dan memenej keuangan rumah tangga.

 

“Tidaklah seorang mukmin memohon sesuatu yang bermanfaat baginya setelah takwa itu lebih baik daripada istri yang sholehah, yaitu istri yang taat ketika diperintahkan, menyenangkan ketika dipandang, berbuat baik ketika bersumpah serta dapat menjaga diri dan memelihara harta ketika suami tidak ada di rumah” [HR Ahmad]

 

Namun, sering kali kita mengeluh, “duh kok uang belanja kurang terus ya”, atau heran “loh, tetangga yang sepertinya penghasilannya lebih kecil dari kita saja kok bisa pergi haji ya?” atau malah bingung “wah, adik mau masuk SD tahun depan, biayanya dari mana ya?” Wah, Ibu-ibu, kalau sering bingung begitu, jangan-jangan bukan uangnya yang kurang, tapi manajemen keuangannya yang belum benar.

 

Sebenarnya sulit tidak sih, manajemen keuangan? Tenang saja, tidak perlu pencatatan yang rumit-rumit, teori ekonomi dan aplikasi budgeting keuangan mutakhir kok. Berikut kunci manajemen keuangan keluarga

 

1.Planning berarti memiliki CITA-CITA

Coba kita berhenti sejenak, untuk berpikir. Apa cita-cita saya? Apa cita-cita keluarga? Saya ambil contoh, ada keluarga yang bercita-cita untuk naik haji, sehingga mereka mulai menabung sejak 5 tahun sebelumnya. Luar biasa. Kenapa? Karena tanpa planning, tidak mungkin hal tersebut tercapai. Coba kita telaah.

 

Ongkos Haji sekitar 40 juta rupiah per orang (saya ambil kisaran berangkat dari Jepang, karena asumsi FAHIMA semua domisili Jepang ya), sehingga untuk sepasang suami istri perlu 80 juta. Wah sudah bisa beli rumah kalau di kampung saya itu. Tapi pasangan ini sejak menikah memiliki kesamaan cita-cita, yaitu naik haji itu. Sehingga 80 juta itu di break-down hingga ke penghasilan yang sekarang. Ternyata dengan hanya menyisihkan 1.3 juta per bulan dalam kurun waktu 5 tahun mereka bisa berangkat. Subhanallah.

 

Itu kalau cita-cita keluarga Anda berangkat haji. Ada lagi contoh kasus keluarga yang bercita-cita meraih pendidikan setinggi mungkin. Sang Ibu dan Ayah keduanya membutuhkan biaya sekolah yang tidak sedikit (sekitar 60 juta per tahun untuk jenjang Master baik di Indonesia maupun luar negeri), sedangkan pengeluaran tetap sama. Wow, jumlah yang bombastis. Duit dari mana? Eitts, jangan menyerah diawal dulu. Mari kita telaah satu persatu. Berapa penghasilan per bulan, berapa yang harus disisihkan tiap bulannya untuk mencapai jumlah tersebut, dan dalam berapa tahun. Hanya itu saja yang perlu sedikit hitung-berhitung. Menggunakan kalkulator di handphone saja sudah bisa kok, hanya beberapa detik. Tapi tanpa sadar, Anda telah melalukan proses yang bahasa kerennya di teori ekonomi sebagai “financial budgeting”. Allahu Akbar. Luar biasa memang kekuatan planning.

 

Tanpa cita-cita, keuangan Anda akan berjalan tanpa arah. Uang akan selalu terasa kurang, bahkan kalau lebih pun bingung akan dialokasikan dimana. Jadi, ingat kunci utama ya. Have your own FAMILY DREAMS. Miliki cita-cita. Cita-cita ini yang akan mengawali, mengiringi dan memotivasi planning keuangan keluarga Anda.

 

Dalam menentukan cita-cita keluarga, perlu adanya keterbukaan antara suami dan istri. Kejujuran dalam pemasukan dan pengeluaran, dan saling menghargai. Qona’ah ketika pendapatan keluarga tidak begitu besar. Sehingga nantinya, cita-cita keluarga merupakan kesepakatan bersama, sehingga semakin memotivasi semangat untuk mencapainya.

 

2.Menabung berarti ISTIQOMAH

Setelah dikurangi kewajiban seperti hutang, zakat dan orang tua, serta pengeluaran rutin yang bisa diprediksi seperti gas, air, listrik, handphone, sekolah anak, dan sebagainya, Kelebihannya itulah jatahnya cita-cita itu tadi. Ada yang lapang sekitar 60% dari penghasilan, ada yang sedikit mungkin sekitar 30-40% penghasilan. Berapapun itu, ingatlah untuk selalu memplanning.

 

Tips menabung dari Rasulullah SAW: Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana, dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya. [HR Muslim & Ahmad]

 

Yang penting disini adalah bisa membedakan pengeluaran wajib dan jajan. Bisa membedakan kebutuhan dan keinginan. Waspada, jangan-jangan pengeluaran diluar yang wajib bisa dihitung sebagai berlebih-lebihan.

 

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan:67).

 

Uang sekolah anak, pasti wajib. Kalau jajan es krim anak? Wah berlebihan atau tidaknya tergantung frekuensi dan kuantitas, tapi pastinya itu bukan kewajiban. Nah loh, coba di cek lagi, berapa sih pengeluaran sebulan habis untuk jajan anak? Jangan-jangan kalau ditabung satu tahun bisa untuk beli kambing satu. Kambing satu harganya 1.5 juta rupiah, di break down kurun waktu satu tahun, menabung 125 ribu rupiah tiap bulan bisa kurban satu kambing tiap tahun. Subhanallah, lagi-lagi luar biasa kekuatan planning ini.

 

Namun mungkin kesulitan utama yang paling umum dialami ibu-ibu adalah istiqomah dalam mengumpulkan uang receh dan istiqomah untuk tidak mengambil tabungan itu untuk keperluan lain.

 

Dalam hal ini, ada beberapa cara untuk menyiasatinya. Salah satunya adalah dengan memiliki lebih dari satu rekening. Rekening untuk pengeluaran rutin, dan rekening untuk tabungan. Bahkan kalau perlu, untuk setiap cita-cita disediaan rekening yang berbeda pula. Mungkin akan sedikit rumit pada awalnya, karena harus membuka rekening tabungan baru, namun seiring waktu hal ini akan mempermudah planning dan controlling dalam memasukkan tabungan apabila terdapat pos-pos yang berbeda.

 

Kemudian, apabila pos tabungan sudah jelas, bertahanlah dengan pengeluaran rutin Anda! Apabila setiap bulan rata-rata Anda menghabiskan 3 juta rupiah untuk belanja dapur, hindari mall dan pasar online apabila Anda sudah menghabiskan sejumlah tersebut. Terbiasalah untuk berpikir berulang-ulang dan berkali-kali untuk membeli barang dan terbiasalah untuk membandingkan harga dan mencari alternatif barang atau toko, sehingga insyaAllah barang yang Anda beli pada akhirnya adalah barang terbaik dari Allah SWT hasil pemikiran dan usaha yang keras.

 

3.Ingat berarti Mencatat!

Apakah Anda ingat dengan pengeluaran dan hutang piutang Anda? Angka merupakan hal yang cukup sulit untuk dihapal, sehingga, catatlah.

 

Jujur saja, sebenarnya siapa sih diantara kita yang masih istiqomah menulis pencatatan pengeluaran? Saya ingat betul sewaktu kecil selalu melihat ibu saya biarpun sudah larut malam, dengan kepala tengklak tengkluk antara mengantuk dan capek sepulang dari kantor selalu menyempatkan diri menulis pengeluaran harian di buku tebalnya yang bersampul batik. Dalam hati kecil, saya berniat, nanti jika sudah berumah-tangga saya mau mempraktekkan hal yang sama supaya manajemen keuangan lebih terkontrol.

 

 

Kini, pencatatan keuangan ditunjang dengan excel hingga aplikasi-aplikasi dari yang mudah hingga yang sophisticated di smartphone, sehingga pencatatan menjadi lebih mudah dan terkontrol. Namun, pencatatan sederhana dan mudah ala ibu saya dengan menggunakan buku tebal bersampul batik pun sangat relevan untuk dilakukan. Tidak masalah fasilitas pencatatan yang digunakan, selama masih dapat membantu anda dalam manajemen keuangan.

 

Tenang saja, pencatatan tidak harus rumit, cukup apabila bisa dimengerti oleh Anda dan suami. Perencanaan yang tercatat dapat memudahkan Anda memetakan masalah. Sehingga prioritas keuangan bisa terjaga dan pengeluaran berlebihan dan tidak perlu bisa cepat terdeteksi.

 

Itulah 3 kunci manajemen keuangan keluarga. Simple bukan? Cita-cita, Istiqomah, dan Pencatatan. Ingatlah, bahwa kita sebagai manager keuangan keluarga kecil kita, bukanlah seorang kasir. Siap menerima uang, dan siap mengeluarkannya. Manajemen adalah mengelola, sehingga membutuhkan perencanaan, pengorganisasian dan kontrol.

 

Selamat bekerja, Ibu Manajer!

 

logo sjj  


Pengunjung

Hari ini318
Kemarin362
Minggu ini1205
Bulan ini8899
All328046

Currently are 67 guests and no members online